Negeri Surga

Sabjan Badio

Aku, perempuan dengan usia 56 tahun. Perempuan yang telah ditinggal mati oleh kekasihnya. Di usia senjaku ini aku paksakan diriku untuk tidak kesepian. Setidaknya tidak melakukan pekerjaan konyol dengan mengirim surat untuk diri sendiri. Setidaknya ketiga anakku masih menyapaku, lewat pesan singkatnya di dunia maya.

Gemetar aku membacai satu surat elektronik dari salah satu anakku. Handoko, anak sulungku mengabarkan bahwa ia ingin sekali pulang. Sepersekian menit aku terdiam membayangkan episode sepuluh tahun silam.

“Ibu harusnya lebih bijaksana, membiarkanku pergi meraih impian,” begitutegas dan jelas terucap di telingaku. Saat itu gempa bumi berkekuatan 5,9 skala richter baru saja menggunjang Bantul.

“Apa begitu tingginya impianmu Nak, hingga tak mau kau pijakkan mimpimu itu di sini. Di bumi yang telah mencukupi makanmu?” Sungguh pun kurasa akan sia-sia kata-kataku, namun aku masih punya harapan bahwa Handoko menolak tawaran itu.

“Ibu, tidakkah Ibu lihat apa yang baru saja terjadi? Gempa bumi telah meratakan rumah kita, merenggut bapak, menenggelamkan kita dalam lara panjang.”

Sejurus aku terdiam. Tidak terbantahkan karena memang itu yang kami alami. Akan tetapi, apakah bijak meninggalkan tanah leluhur dalam keadaan poranda seperti ini?

“Bu, tanah kita ini, barangkali umurnya tak akan lama lagi. Tentu Ibu masih ingat yang Han sampaikan, hidup kita di tengah lempeng yang masih labil. Ini sangat berisiko, Bu.”

Aku masih terdiam. Dapat kubayangkan betapa riskannya Indonesia dengan pembagian enam zonasi gempa dari pantai Sumatra sampai Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua. Kesimpulannya akan lebih banyak terjadi gempa bumi.

“Bu, Han mohon, iklhaskan Handoko bekerja dan menetap di Malaysia. Di sana Han rasa lebih menjanjikan daripada terkurung di sini dengan keputusasaan. Kelak, kalau Handoko berhasil, Ibu, Handika, dan Hanum akan Handoko boyong ke Malaysia. Kita masih punya masa depan yang lebih baik.”

Begitulah. Handoko pergi, menikah, dan menetap di negeri Mahatir Muhammad. Ini adalah pukulan telak mengenai ulu hatiku, setelah aku dapati suamiku bersimbah darah dalam reruntuhan rumah kami tempo hari. Tanpa nyawa.

Selang tiga tahun, setelah meraih master dan bekerja, Handoko mengajak aku dan dua putriku pindah ke Malaysia. Tentu saja aku tidak mau. Kubur suamiku ada di sini, di Imogiri, dekat sekali dengan makam raja-raja Mataram. Dekat dengan keyakinanku akan negeri surga yang selalu kuimpikan.

Bantul, tahun 2015. Aku berpaling dari liquid cristal display komputerku. Mungkin itu LCD terakhir dalam sejarah komputer. Teman-temanku sudah menggunakan LED (Light-Emitting Diode) yang tidak memerlukan back light, hemat energi, dan dapat didesainkan tipis. Kabarnya, LED juga mempunyai sudut pandang 180 derajat, dapat mengeluarkan cahaya sendiri, serta bisa menampilkan warna hitam pekat dan kontras dengan lebih baik.

Mataku menyapu halaman rumah lewat bingkai jendela yang lebar. Angin bertiup semilir. Hamparan hijau hampir menutup seluruh permukaan tanah, kecuali jalan kecil yang menghubungkan teras rumahku dengan jalan utama. Di pinggir rerumputan itu tumbuh ciplukan, Physalis minina, perdu dengan tinggi kurang dari satu meter ini banyak ditanam di halaman rumah. Kini orang tak lagi menganggap enteng tumbuhan ini. Buahnya, berbentuk bulat dan berwarna hijau kekuningan bila masih muda. Buah inilah yang digunakan untuk menyembuhkan diabetes militus, sakit paru-paru, ayan, serta borok.

Di depan tumbuhan ciplukan, berderet Portulaca oleraceae L. atau krokot. Tanaman yang diperkirakan dari daratan Amerika tropis ini memiliki  kandungan KC, KSO4, KNO3nicotinic acid, tanin saponin, vitamin A, B, C, 1-noradrenalin, dan dopa. Seluruh bagian dari tumbuhan ini dapat mengobati disentri, diare akut, radang payudara, sakit kuning, cacingan, dan sesak napas. Itu yang baru aku ingat, karena masih ada beberapa penyakit yang dapat diobati dengan tumbuhan ini. Rumah-rumah yang bersebelahan dengan rumahku juga menanam tanaman ini. Beberapa tanaman lain juga telah dibudidayakan karena memang banyak manfaatnya.

Kuhirup udara pagi ini. Tubuhku terasa segar setelah melakukan terapi melaluibiochip. Entahlah, akhir-akhir ini emosiku terus meledak-ledak, seolah siap mengantarkanku pada kematian. Akan tetapi, aku bertekad ini tidak akan terjadi sebelum aku tahu Handoko telah kembali dalam pelukanku.

Dengan terapi melalui telepon seluler, aku tidak perlu repot membawa tubuhku ini ke luar rumah. Umumnya, dokter sekarang menggunakan temuan ini untuk mengobati pasiennya. Handoko seharusnya ingat pembuat biochip ini. Sebagai materi inti dari biochip adalah benda organik yang diracik hingga menjadi hanya seberat kurang dari satu gram. Lalu benda ini dilekatkan pada lempengan kecil kawat dan disambungkan oleh media penghantar berupa lembaran-lembaran kabel. Penemunya Pak Joko Sasmita yang membuka praktik di taman parkir makam raja-raja Imogiri. Bertahun lalu, Handokolah yang menceritakannya untukku.

Pandanganku beralih mengitari bingkai lukisan titik air. Lukisan itu mengingatkanku pada lukisan realisme romantik milik Irma Hardisurya. Begitu dalam mencapai suara hati, suara yang paling jujur. Dan aku paham akan keadaan Handoko, meski dunia telah menahannya, toh hatinya tidak akan berpaling. Indonesia, lebih sempit lagi di sini, di samping ibunya yang menunggu waktu. Kelegaan menjalar dalam sudut hatiku. Aku pasti akan menerima keputusan Handoko. Pulang ke tanah air, membawa keluarganya untuk tinggal di sini.

Aku akan merasa terampuni karena mengizinkannya mengenyam pendidikan di negara lain. Aku hanya ingin anak-anakku dapat merengguk luasnya ilmu dan mengembangkannya di negeri sendiri.

Ah, Handoko tentulah kau sudah mendengar ratusan anak bangsa yang berlaga dalam ajang sains dunia? Ingatkah kau dengan Septinus George Saa dari Jayapura yang berhasil menjuarai The First Step to Nobel Prize? Atau Indranu yang sudah akrab dengan persamaan relativitas umum Einstein saat usianya baru sembilan tahun? Para jenius yang mau mengabdikan dirinya untuk tanah kelahiran. Kau tahu, usia mereka tidak lebih tua darimu.

Air mataku terurai. Tenggorokanku terasa tercekat. Buru-buru kuhampiri monitorku. Menjentikkan jemari pada touchscreen, mengirim pesan untuk kedua anakku yang lain, Handika dan Hanum. Aku meminta mereka untuk menemuiku esok hari. Handika bekerja sebagai pengusaha batik. Batik tulis kian semarak sejak ditetapkan Unesco sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia sebelas tahun lalu. Handika lebih banyak bekerja di belakang laptopnya, memasang iklan, menerima pesanan, hingga melakukan transaksi, semuanya di dunia maya. Akan halnya Hanum, ia lebih memilih menjadi guru, sama sepertiku dulu. Mengajar di sebuah madrasah pinggiran yang sarat kemauan belajar. Pola pikir manusia telah mengubah segalanya, “Ini akan membuat semua menjadi lebih baik,” begitu kata Hanum. Aku sendiri hanya tersenyum membayangkan semasa mengajar dulu, mengenang anak-anak yang enggan belajar dan lebih senang membolos saat pelajaran berlangsung.

Aku jadi salah tingkah membayangkan Handoko kembali pulang. Tidak ada perubahan istimewa di rumah ini. Pepohonan masih melingkupi area perbukitan, hijau menyejukkan mata. Kalau ada yang baru, barangkali sekarang tidak sesepi dulu. Geliat ekonomi mengundang banyak orang datang ke sini. Akan tetapi di sini tetap tidak ada mall atau pusat perbelanjaan. Mereka dibiarkan berinteraksi satu sama lain agar saling mengenal dan tidak kehilangan nurani.

Sekali lagi aku membacai surat elektronik dari Handoko.

Ibu, pelipur hatiku.
Sudah lama ingin kukatakan padamu penyesalanku yang paling dalam. Aku merasa bersalah karena meninggalkan Ibu dan juga tanah leluhur kita. Kini aku tahu, di negeri orang dengan peradaban yang lebih maju tidaklah aku temukan kedamaian. Peradaban yang sesungguhnya, telah ada di tanah sendiri dan aku hampir melupakannya.
Ibu, aku ingin kembali dalam rengkuhan tanahku sendiri. Aku ingin bersama yang lain membangun kembali negeri ini…

Ku-replay pesan itu.

Anakku, Ibu masih menantimu untuk kembali. Kalau kau ingin melihat negeri surga yang selalu kau impikan, letaknya ada di sini. Di tanahmu sendiri. Di mana hatimu selalu membawa kembali padanya….

Sampai di sini aku berhenti. Keringat dingin menjalari tubuhku. Gemetar tanganku saat berusaha menyentuh LCD, menekan menu send. Rasa sesak memenuhi rongga dada. Detik berikutnya membawaku pada perjalanan penuh kemenangan. Aku tidak perlu risau akan gempa bumi yang semakin kerap atau mencairnya glasier di Kutub Utara. Tidak lagi, karena orang-orang di sini sadar betul apa yang musti mereka lakukan. Mereka akan menjaga tanah surganya.***



0 komentar:

Tulisan Populer Pekan ini